Perlu, Kemasan Bergambar Bahaya Rokok

Posting Komentar
Kemasan Rokok Maroko Vs Indonesia

JAKARTA (Suara Karya): Peringatan tentang bahaya merokok bagi kesehatan dalam bentuk tulisan kecil di bagian bawah kemasan rokok ternyata tidak efektif dalam menekan masyarakat untuk tidak merokok. Untuk itu, perlu dibuat peringatan bahaya merokok dalam bentuk aneka gambar yang memperlihatkan dampak buruk merokok bagi kesehatan.

"Perlu peringatan kesehatan berbentuk gambar karena bentuk tulisan kecil tak cukup ampuh dalam menekan angka perokok di Indonesia," kata Deputi Menko Kesra Bidang Koordinasi Kesehatan, Kependudukan dan KB, Emil Agustiono, dalam seminar "Peringatan Kesehatan Berbentuk Gambar Mendorong Kemandirian untuk Hidup Sehat" di Jakarta, Selasa (11/1).

Emil menambahkan, upaya promosi kesehatan harus dilakukan sedini mungkin dan dilakukan dengan menggunakan metode dan media yang tepat serta dilakukan secara profesional. Peringatan kesehatan berbentuk gambar pada kemasan rokok merupakan salah satu upaya promosi kesehatan yang baik.
"Rokok adalah salah satu produk tembakau yang membahayakan kesehatan karena kandungan racun dalam asapnya. Gangguan kesehatan tidak hanya terhadap perokok aktif, namun juga kepada perokok pasif yang menghirup asap dari perokok aktif," katanya.

Hal senada dikemukakan Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, dr Bambang Wispriyono. Peringatan bahaya merokok dengan tulisan kecil di kemasan terbukti tidak efektif untuk mencegah jumlah perokok baru.

Hal itu terlihat dari jumlah perokok remaja 15-19 tahun naik hingga 150 persen selama 2001-2007. Sedangkan perokok pemula usia 10-14 tahun naik hampir dua kali lipat selama periode yang sama.
"Dibutuhkan keseriusan Pemerintah Indonesia untuk memaksa produsen rokok agar memproduksi bungkus rokok dengan peringatan berbentuk gambar bahaya rokok besar-besar. Hal ini sudah tidak bisa ditawar-tawar lagi," kata Bambang Wispriyono menegaskan.

Contoh Kemasan Rokok Di Thailland


Dia menambahkan, penelitian di banyak negara menunjukkan, peringatan berbentuk gambar lebih efektif meningkatkan pemahaman bahaya mengisap tembakau dibanding tulisan. Pascapenetapan gambar dalam bungkus rokok di Singapura, misalnya, 1 dari 6 perokok mengaku tidak lagi merokok di depan anak-anak.

"Sementara di Thailand, lebih dari 50 persen perokok mengaku kini berpikir panjang jika akan merokok, setelah kemasan baru yang memasang gambar bahaya rokok bagi kesehatan diluncurkan," katanya.
Kemasan rokok di Thailand dan negara lainnya di ASEAN seperti Singapura, Malaysia, dan Brunei memperlihatkan gambar rongga mulut manusia yang rusak digerogoti tumor ganas. Bentuk kanker pada bibir, lidah, dan gusi menyerupai sariawan dengan gusi bengkak dan berdarah. Di bawah gambar itu ada tulisan "merokok menyebabkan 92 persen dari angka kejadian kanker mulut".

Gambar lain memperlihatkan perdarahan otak pada penderita stroke yang dilengkapi dengan tulisan "merokok menyebabkan stroke". Pada kemasan rokok lain ada gambar janin tidak berkembang disertai keterangan "merokok meningkatkan risiko keguguran".

Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Tjandra Yoga Aditama menegaskan, soal pencantuman pasal peringatan gambar dalam bungkus rokok tidak mengalami penolakan pada pembahasan Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) tentang Pengamanan Zat Adiktif Produk Tembakau.

"Ketika RPP disahkan pada Juni 2011 nanti, gambar yang dicantumkan pada bungkus rokok adalah gambar orang terkena kanker mulut, kanker faring, kanker paru-paru, penuaan dini, dan dampak rokok pada anak-anak," ujarnya.

Sementara itu, Dr Domilyn Villarreiz dari Southeast Asia Tobacco Control Alliance mengutarakan, informasi bahaya merokok dalam bentuk gambar sudah terbukti efektif menurunkan jumlah perokok di sekitar 43 negara yang telah menerapkanya. Bahkan pesan bahaya rokok sampai ke pelosok-pelosok desa dan dipahami oleh orang buta huruf sekalipun.

"Hampir semua negara yang mewajibkan peringatan gambar pada bungkus rokok telah menerapkan besaran gambar dengan proporsi ukuran minimum 50 persen dari luas bungkus rokok. Negara seperti Uruguay bahkan mencantumkan proporsi gambar hingga 80 persen. Demikian pula Kanada dan Australia yang 75 persen," kata Villareiz menegaskan. (Tri Wahyuni)

Sumber Artikel : Suara karya Online
Sumber Gambar : KCT-Blog.com (ini dia beda bungkus luar negri dengan Indonesia)
Imaduddin Badrawi, S.Tr.AK
Imaduddin Badrawi, S.Tr.AK
Founder www.infolabmed.com, tim penulis buku "Pedoman Teknik Pemeriksaan Laboratorium Klinik Untuk Mahasiswa Teknologi Laboratorium Medik". Aktif menulis di https://www.atlm-edu.id/, https://www.indonewstoday.com/, dan https://kumparan.com/catatan-atlm. Untuk kerjasama bisa melalui e mail : imadanalis@gmail.com

Related Posts

Posting Komentar