IMADANALIS - Setiap hari pulang sekolah, pemandangan yang sama terlihat di depan gerbang sekolah dasar di seluruh Indonesia.
Ratusan anak dengan seragam merah putih berkerumun di sekitar pedagang kaki lima, berebut membeli jajanan murah meriah seperti minuman serbuk rasa buah seharga Rp500, es lilin warna-warni, atau snack kemasan dengan rasa ekstrim.
Yang tak disadari anak-anak dan orang tua mereka, dibalik harga murah dan rasa yang menggoda, tersembunyi bahaya kesehatan yang mengancam nyawa.
Dokter spesialis anak di berbagai rumah sakit besar mulai mencatat tren yang mengkhawatirkan.
Dalam lima tahun terakhir, kasus gagal ginjal kronis pada anak usia sekolah dasar meningkat signifikan.
Data dari Perhimpunan Nefrologi Indonesia (PERNEFRI) menunjukkan, sekitar 10-15% pasien baru hemodialisis (cuci darah) sekarang berasal dari kelompok usia 5-18 tahun.
Padahal sebelumnya, penyakit ginjal stadium akhir lebih banyak dialami orang dewasa atau lansia.
Apa yang menyebabkan fenomena memilukan ini? Para ahli menemukan korelasi kuat antara kebiasaan konsumsi jajanan tidak sehat dengan kerusakan ginjal dini pada anak.
Banyak jajanan murah di sekolah mengandung pemanis buatan seperti siklamat dan sakarin yang 300-500 kali lebih manis dari gula biasa.
Ginjal anak yang masih berkembang harus bekerja ekstra keras untuk menyaring zat-zat asing ini.
Tak jarang ditemukan pula jajanan yang mengandung pewarna tekstil seperti Rhodamin B atau pengawet berbahaya seperti formalin.
Yang lebih memprihatinkan, kerusakan ginjal pada anak seringkali tidak menunjukkan gejala jelas di tahap awal.
Orang tua baru menyadari ketika kondisi sudah parah - saat anak mulai sering lemas, wajah dan kaki membengkak, atau urine berbusa.
Pada tahap ini, satu-satunya pilihan pengobatan adalah cuci darah rutin 2-3 kali seminggu seumur hidup, dengan biaya mencapai Rp5-10 juta per bulan.
Beban ekonomi dan psikologis yang harus ditanggung keluarga pun menjadi sangat berat.
Faktor minimnya pengetahuan orang tua turut memperparah situasi. Survei terbaru Kementerian Kesehatan di 10 kota besar menunjukkan, 7 dari 10 orang tua mengaku tidak pernah memeriksa kandungan jajanan yang dibeli anak mereka.
Sebagian besar beranggapan bahwa selama anak mau makan, tidak masalah. Padahal, efek kerusakan dari bahan kimia berbahaya bersifat kumulatif - baru muncul setelah bertahun-tahun konsumsi.
Menyikapi krisis kesehatan ini, pemerintah melalui Kementerian Kesehatan meluncurkan Program Pemeriksaan Kesehatan Gratis untuk pelajar SD hingga SMA.
Inisiatif ini menjadi angin segar bagi deteksi dini masalah kesehatan anak.
Melalui program ini, siswa bisa mendapatkan pemeriksaan urine sederhana untuk mendeteksi proteinuria (tanda awal kerusakan ginjal), pengukuran tekanan darah, serta konsultasi gizi gratis.
Untuk memaksimalkan program ini, kolaborasi semua pihak mutlak diperlukan. Sekolah bisa berperan dengan memperketat pengawasan kantin dan lingkungan sekolah, memastikan hanya jajanan sehat yang beredar.
Orang tua perlu lebih aktif membekali anak dengan makanan rumah yang lebih bergizi.
Pemerintah daerah dapat menggalakkan pelatihan bagi pedagang kaki lima tentang keamanan pangan, sekaligus memberikan akses pembiayaan untuk beralih ke bahan yang lebih aman.
Perubahan kecil di tingkat keluarga juga bisa membuat perbedaan besar.
Membiasakan anak minum air putih ketimbang minuman kemasan, menyiapkan bekal buah potong atau kacang rebus sebagai alternatif jajanan, serta mengedukasi anak tentang pemilihan makanan sehat adalah langkah-langkah praktis yang bisa dimulai hari ini.
Ahli gizi anak dr. Anisa Kartika, Sp.GK mengingatkan, "Ginjal yang rusak tidak bisa kembali normal. Pencegahan adalah investasi terbaik untuk masa depan anak-anak kita."
Program pemeriksaan kesehatan gratis dari pemerintah menjadi kesempatan emas untuk memutus mata rantai penyakit ginjal pada generasi muda.
Dengan deteksi dini dan perubahan pola konsumsi, ribuan anak bisa terhindar dari belenggu mesin cuci darah seumur hidup.
Kini saatnya bertindak. Setiap orang tua perlu mengambil peran aktif memantau jajanan anak, memanfaatkan layanan kesehatan yang tersedia, dan menjadi agen perubahan di lingkungan masing-masing.
Karena melindungi kesehatan anak hari ini berarti menjamin masa depan bangsa yang lebih kuat esok hari.***
