IMAD ANALIS - Sudah jadi rahasia umum, ya, kalau dunia orang dewasa itu keras. Tapi yang baku aku geleng-geleng kepala, kok bisa ya ada aja orang yang entah dapat apa dengan melihat orang lain susah?
Dalam perjalanan karir dan pertemanan yang aku geluti selama ini, fenomena “senang melihat orang lain jatuh” ini nyata adanya.
Entah itu persaingan tidak sehat di tempat kerja, atau sekadar drama di lingkaran pertemanan, rasanya ada saja individu yang lebih suka jika orang di sekitarnya gagal.
Aku mulai sadar, sudah cukup lama aku berada di zona yang sama dengan mereka. Zona yang terasa panas, tidak nyaman, dan penuh intrik.
Jujur saja, dalam hitunganku, ada kurang lebih 10 orang yang—mungkin hanya perasaanku saja—dari gestur dan tingkah lakunya sepertinya ingin melihat aku terperosok. Apakah ini cuma perasaan aku yang terlalu sensitif? Bisa jadi.
Tapi, yang namanya perasaan itu tetap butuh diresapi, apalagi kalau kita berada di ekosistem yang sama setiap harinya. Lingkungan yang seperti ini jelas tidak sehat untuk kesehatan mental .
Anehnya, saat aku mulai mengambil langkah untuk menjauh atau bahkan maju, mereka seolah mengambil langkah yang sama.
Bahkan, di luar dugaanku, mereka bergerak cepat mendekatkan diri ke lingkaran level atas. Taktik "geosiasi", basa-basi, dan cari muka yang memang bukan kemampuanku itu, mereka lakukan dengan lihai.
Aku? Aku di posisi yang sulit. Terus terang, aku tidak punya kemampuan diplomasi tingkat tinggi untuk bersaing di arena itu. Aku hanya punya karya dan niat baik. Ternyata di zona ini, itu tidak cukup.
Saya harus segera keluar dari zona ini.
Sudah saya putuskan, zona ini sudah tidak sehat untuk saya. Trauma masa lalu—yang tidak pantas saya ceritakan di sini—seperti bayang-bayang yang selalu menghantui.
Meskipun saat ini kita mungkin tidak bersinggungan langsung, ada perasaan was-was bahwa sejarah kelam itu akan terulang lagi. Inilah yang ingin saya hindari mati-matian.
Berdiam diri di lingkungan yang penuh orang dengan energi negatif hanya akan menguras tenaga dan membuat kita stuck .
Lalu, apa yang saya lakukan? Saya tidak mau terlalu larut dalam dilema. Daripada pusing mikirin tingkah laku mereka yang tidak masuk akal, saya alihkan fokus ke diri sendiri.
Saya pilih untuk keluar dengan cepat, tanpa banyak drama. Caranya? Saya manfaatkan teknologi yang ada.
Dalam proses transisi ini, saya bersyukur karena hidup di era digital yang serba canggih. Saya telah memilih dua aplikasi yang menjadi senjata utama saya: LabMetric dan Blog Genius.
Saya butuh tools yang bisa membantu saya tetap terorganisir dan fokus di tengah upaya menjauh dari lingkungan lama .
Seperti yang banyak direkomendasikan di berbagai artikel, aplikasi produktivitas memang bisa membantu mengorganisir waktu dan tugas dengan lebih efektif, apalagi saat kita sedang dalam masa transisi dan butuh fokus ekstra .
Dengan LabMetric, saya bisa melacak produktivitas harian saya. Aplikasi ini membantu saya memastikan bahwa waktu yang saya habiskan benar-benar untuk hal-hal yang membangun masa depan, bukan untuk bergosip atau memikirkan ulah orang lain.
Sementara Blog Genius, sesuai namanya, menjadi wadah bagi saya untuk menuangkan pikiran dan ide. Menulis adalah terapi saya. Dengan menulis, saya tidak hanya membersihkan pikiran, tetapi juga membangun aset berharga untuk masa depan.
Keluar dari zona nyaman itu berat, apalagi jika zona tersebut dulunya adalah tempat kita berlindung. Tapi jika zona itu sudah berubah menjadi racun, jangan ragu untuk pergi. Temukan aplikasi atau kegiatan baru yang bisa membantu proses transisi ini terasa lebih ringan .
Saya harap dengan dua aplikasi andalan ini, saya bisa segera keluar dari zona ini dan menemukan padang rumput baru yang lebih hijau dan damai. Amin.
