IMADANALIS - Halo, pembaca setia! Imadanalis di sini, siap berbagi cerita lagi. Seperti yang kalian tahu, saya sudah suka menulis sejak 2008—tahun yang sama saya lulus sebagai Teknisi Laboratorium Medik (TLM).
Dan tahun-tahun itu dihabiskan dengan setia di Rumah Sakit. Tapi, sejak 2025 sampai sekarang (2026 nih kita!), peta karir saya belok ke Puskesmas.
Nah, pasti banyak yang penasaran, “Bedanya kerja di Rumah Sakit sama di Puskesmas tuh gimana sih?”. Yuk, kita obrolin santai tapi detail berdasarkan pengalaman saya sendiri.
Ekosistem Kerja: Tim vs Solo Player
Dulu di RS Tipe C tempat saya bekerja, laboratorium itu seperti sebuah sistem yang solid. Kami ada 9 orang TLM, ditambah admin, cleaning service, dan tentunya ada dokter spesialis patologi klinik yang membimbing.
Dinas pagi ramai dengan 4 TLM plus support system tadi. Rutinitas pagi kami saklek: Quality Control (QC) semua alat. Hematologi analyzer, kimia analyzer, urin analyzer, TCM, AGD—semua dicek dan diverifikasi sebelum menerima sampel pasien. Itu tanggung jawab bersama.
Kalau siang atau malam, biasanya yang jaga cuma satu orang TLM. Capek? Relatif. Kalau lagi “serbu”, ya pasti pegel. Tapi kalau lagi sepi, bisa santai sambil ngecek hasil.
Sekarang? Di Puskesmas, saya adalah satu-satunya TLM. Iya, sendirian. One man show dari buka lab sampai tutup.
Konsekuensinya, rutinitas QC yang ketat seperti di RS? Nggak ada. Kenapa? Karena mayoritas alat di sini adalah POCT (Point of Care Testing). Alat-alat seperti glucometer atau rapid test yang relatif sederhana dan hasilnya instan. Kalau mau tahu lebih dalam soal POCT, saya pernah baca artikel bagus di sini.
Plusnya? Kebebasan mutlak. Nggak ada yang ngatur-ngatur atau intervensi pekerjaan. Minusnya? Semua harus dikerjain sendiri.
Mulai dari penerimaan sampel, pencatatan manual/komputer, pemeriksaan, pelaporan, hingga administrasi dasar. Kalau lagi ramai, ya siap-siap multitasking level dewa.
Soal Beban dan Tanggung Jawab
Di RS, beban kerja bisa lebih berat secara volume karena pasien rawat jalan, inap, dan gawat darurat. Tapi, beban itu terbagi. Kalau ada masalah alat kompleks, bisa diskusi dengan sesama TLM atau dokter spesialis. Ada rasa backup.
Di Puskesmas, volume pasien biasanya lebih teratur dan terkontrol (kebanyakan rawat jalan dan skrining), tapi tekanan psikologisnya ada di tanggung jawab mandiri.
Anda adalah ujung tombak dan penanggung jawab akhir di lab. Tidak ada rekan untuk cross-check spontan. Kedisiplinan dan kejujuran dalam prosedur menjadi kunci utama.
Pertanyaan Jutaan: Jadi, Enakan di Mana?
Nah, ini pertanyaan yang sering banget muncul. Dari sisi pekerjaan dan gaya kerja, saya pribadi sekarang lebih memilih Puskesmas.
Kenapa? Karena saya tipe orang yang suka mengatur ritme kerja sendiri dan lebih nyaman dengan alat-alat POCT yang langsung ke pasien.
Kerja jadi lebih personal, langsung lihat dampaknya ke masyarakat sekitar. Plus, nggak ada dinas malam yang mengacaukan pola tidur, hehe.
Tapi, kita nggak bisa tutup mata sama gaji dan status. Ini penting banget!
Sebagai seorang ASN/PPPK yang sekarang bertugas di Puskesmas, pilihan ini sangat masuk akal bagi saya.
Gaji saya sebagai PPPK di Puskesmas ternyata setara dengan gaji yang saya terima dulu sebagai tenaga kontrak di Rumah Sakit.
Jadi, secara finansial sideways move, tapi dapat benefit lingkungan kerja yang lebih saya sukai.
Namun, bayangkan skenario ini:
- Kalau saya PNS dan ditugaskan di RS, saya mungkin akan memilih RS. Biasanya, RS punya tunjangan struktural/fungsional yang lebih variatif.
- Kalau saya non-PNS (kontrak/honorer) dan ditawari kerja di Puskesmas, besar kemungkinan saya akan menolak. Kenapa? Karena umumnya honor tenaga non-PNS di Puskesmas jauh lebih rendah dan kurang jelas jenjang kariernya dibandingkan dengan kontrak di RS swasta atau besar.
Kesimpulan Santai dari Saya
Jadi, perbandingan Puskesmas vs Rumah Sakit itu nggak hitam putih. Semua kembali ke preferensi pribadi dan kondisi status kepegawaian.
Mau kerja tim dengan protokol ketat dan alat canggih? RS mungkin jawabannya. Mau kerja mandiri, lebih dekat dengan komunitas, dan punya kontrol penuh atas workflow harian? Coba pertimbangkan Puskesmas.
Bagi saya pribadi, kombinasi status PPPK dengan kultur kerja Puskesmas adalah sweet spot saat ini.
Pengalaman 16 tahun sejak 2008, dari RS ke Puskesmas, mengajarkan bahwa tidak ada yang salah dari pilihan. Yang penting kita tahu apa yang kita value: suasana kerja, beban, atau kompensasi finansial.
Semoga curhat panjang lebar saya ini bisa kasih gambaran nyata ya! Buat sesama tenaga kesehatan yang sedang bimbang, semoga membantu.
Kalau ada yang mau diskusi lebih lanjut, bisa tanya saya melalui email : imadanalis@gmail.com. Sampai jumpa di tulisan berikutnya!
Salam hangat, Imadanalis
