Urine Protein dan Rasio Urine Protein pada Kreatinin. Bag. 2

Posting Komentar
 
http://baligadiagnostics.com

Pemeriksaan protein dipstick urine sering diukur sebagai tes skrining setiap kali urinalisis dilakukan. Hal ini dapat dilakukan sebagai bagian dari fisik rutin, pemeriksaan kehamilan, ketika diduga infeksi saluran kemih, sebagai bagian dari pemeriskaan ketika hendak dirawat di rumah sakit, atau setiap kali seorang praktisi kesehatan ingin mengevaluasi fungsi ginjal. Tes ulang juga dapat dilakukan ketika dipstick sebelumnya telah positif pada pemeriksaan  protein untuk melihat apakah protein tetap terdeteksi.

Pemeriksaan protein urin 24 jam dapat diminta sebagai tes tindak lanjut ketika tes dipstick menunjukkan bahwa ada sejumlah besar protein dalam urin atau ketika protein terbukti positif pada pemeriksaan selanjutnya. ketika dipstick terutama mengukur albumin, praktisi kesehatan dapat memerintahkan tes protein urin 24 jam bahkan ketika ada sedikit protein terdeteksi pada dipstick jika praktisi mencurigai bahwa mungkin ada protein selain albumin yang didapat.

Protein untuk rasio kreatinin mungkin diminta pada sampel urin acak ketika anak menunjukkan bukti protein yang signifikan dan selalu ada dalam urinenya dengan tes dipstick urine.

Pengujian protein urin dapat diminta secara teratur ketika seseorang mengambil obat yang berpotensi mempengaruhi fungsi ginjal, termasuk antibiotik tertentu, analgesik, COX-2 inhibitor (beberapa obat non-steroid anti-inflamasi), dan proton pump inhibitors (gastric reflux).


JIKA HASIL LAB SUDAH ADA

Hasil tes negatif berarti bahwa tidak ada jumlah protein terdeteksi dalam urin pada saat pemeriksaan.

Jika protein terdeteksi dalam sampel urin acak mungkin elevasi sementara karena infeksi, obat-obatan, olahraga berat, kehamilan, diet, paparan dingin, atau stres emosional atau fisik. Harus dilakukan pemeriksaan ulang setelah melewati beberapa kondisi tersebut.

Dengan adanya protein dalam urin juga bisa menjadi tanda peringatan dari kondisi serius. Biasanya, tiga sampel urine positif selama periode waktu tanpa gejala penting lainnya akan sering diikuti dengan tes tambahan, termasuk urine 24 jam.

Peningkatan jumlah protein dan atau adanya protein yang terus menerus dalam urin dapat mengindikasikan kerusakan ginjal atau penyakit. Dengan penyakit ginjal, jumlah protein yan terdeteksi umumnya berhubungan dengan tingkat keparahan dan kerusakan. Peningkatan jumlah protein dari waktu ke waktu mengindikasikan meningkatnya kerusakan dan penurunan fungsi ginjal.

Proteinuria juga dapat dikaitkan dengan banyak penyakit dan kondisi lain. Seorang praktisi kesehatan dapat meminta tes lain dan mempertimbangkan hasil tersebut untuk membantu menentukan penyebabnya. Beberapa contoh penyebab ini meliputi:
  • Amiloidosis
  • Kanker kandung kemih
  • Gagal jantung kongestif
  • Diabetes
  •  Terapi obat yang berpotensi racun bagi ginjal
  • Sindrom Goodpasture
  • Keracunan logam berat
  • Hipertensi
  • Multiple myeloma
  • Pre-eklampsia pada ibu hamil
  • Lupus
  • Infeksi saluran kemih 

 Sumber :
LabTest Online.
2016. Urine Protein and Urine Protein to Creatinine Ratio. Diakses tanggal 2 September 2016. Link ; https://labtestsonline.org/understanding/analytes/urine-protein/tab/test/

Imaduddin Badrawi, S.Tr.AK
Imaduddin Badrawi, S.Tr.AK
Founder www.infolabmed.com, tim penulis buku "Pedoman Teknik Pemeriksaan Laboratorium Klinik Untuk Mahasiswa Teknologi Laboratorium Medik". Aktif menulis di https://www.atlm-edu.id/, https://www.indonewstoday.com/, dan https://kumparan.com/catatan-atlm. Untuk kerjasama bisa melalui e mail : imadanalis@gmail.com

Related Posts

Posting Komentar